KELISTRIKAN : TINGKATKAN KESELAMATAN KERJA IMPLEMENTASI CSMS

listrikan 56 BENTANG KABEL JUTAAN KILOMETER JELAS BERBAHAYA. TITIK INI BUTUH ‘SAFETY’ PLUS KOMITMEN TINGGI.

 Di repuLogo PLNblik ini, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memiliki posisi strategis dan penting. Sebab, selain me­ngelola bisnis kelistrikan, PLN juga memiliki visi me­ningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Maka tak bisa dipungkiri, faktor kesela­matan kerja menjadi hal utama. Bisa dibayangkan, teknis kerja PLN sangatlah rumit dan kompleks. Membangun jaringan listrik di negeri seluas Indonesia, bukanlah pekerjaan mudah.

Setelah itu, PLN pun harus menjaga segala instalasi dengan meminimalisasi kecelakaan kerja. Bukan seminggu atau sebulan sekali, melainkan dalam hitungan hari bahkan menit, segala perlindungan keselamatan kerja harus dipantau terus-menerus. Sistem pemantauan terpusat yang dilakukan PLN, pada akhirnya membutuhkan sinergi. Dalam artian, sistem yang sudah terbangun harus terus ditingkatkan mulai dari lini daerah (PLN Unit), stakeholder dan PLN Kantor Pusat di Jakarta.

Berkaca dari situasi di atas ini, Divisi Umum dan Manajer PLN Kantor Pusat menyelenggarakan Rapat Koordinasi (rakor) Keselamatan Ketenagalistrikan (K2), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Sistem Pengamanan.

Adapun rakor tersebut diselenggarakan di tiga wilayah yakni Mataram (26-27 Maret 2015) untuk wilayah kerja Indonesia Timur. Lalu Batam (1-2 April 2015) untuk wilayah kerja Indonesia Barat dan Bandung (6-7 April 2015) untuk wilayah kerja Jawa-Bali.

Rakor diadakan sebagai pendorong pelaksanaan K2/K3 dan Sistem Pengamanan di lingkungan PLN. Mengingat pentingnya pertemuan ini, maka segala unit dilibatkan, dihadiri oleh Manajer Bidang Pembangkit dan Distribusi Teknik, para supervisor yang membidangi K2, Penanggungjawab Keamanan serta Perwakilan Tim Kerja. Pentingnya Rakor Mencermati kompleksitas permasalahan K2/K3 di lingkungan PLN yang meliputi permasalahan K2/K3 di bidang Pembangkit, Transmisi dan Distribusi, PLN tak boleh menyerah. Apalagi perusahaan ini dituntut menjadi ‘lokomotif’ pendorong kegiatan ekonomi lewat listrik yang mereka kelola.

Begitu berat tugas PLN maka perusahaan ini pun harus senantiasa mengoptimalkan kemampuan semua lini. Dan, muara dari semua itu adalah potensi insani yang tak lain adalah karyawan itu sendiri. Saat ini saja, tercatat sekitar 50.000 karyawan PLN yang tentunya harus dikelola dengan baik.

Maka rakor menjadi jawaban atas permasalahan ini, yang diikuti oleh seluruh unit PLN Pembangkitan, Transmisi, Wilayah/Distribusi, Unit Induk Pembangunan, Jasa Penunjang dan Anak Perusahaan. Sebagai gambaran di wilayah Indonesia bagian Timur terdapat 18 unit induk, wilayah Sumatera 12 unit induk sementara Jawa dan Bali 18 unit induk.

Danni IraDanni Foto WEBwan, Kepala Divisi Umum dan Manajer Kantor PLN (persero) Pusat menilai kegiatan rakor sangat penting. Terlebih PLN sendiri menganggap K2/K3 merupakan faktor utama dalam bekerja sekaligus meningkatkan kinerja karyawan serta produktivitas perusahaan secara keseluruhan.

Dengan jumlah pegawai yang tidak sedkit tentu PLN tidak dapat sepenuhnya mengontrol listrik tersebut. Karena itulah perlu dibangun budaya safety, PLN harus giat membangun budaya ini baik di internal perusahaan maupun luar perusahaan. Salah satunya dengan cara sosialisasi CSMS (Contractor Safety Management System).

“Jadi menurut saya pribadi acara ini cukup baik dan sangat perlu dilakukan,” jelas pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PSSI Sulawesi Selatan ini. Dilanjutkan Danni, “Bayangkan saja ada berapa juta kilometer lintasan kabel listrik yang ada di Indonesia ini. Dan, pusat tidak bisa mengontrol sepenuhnya. Maka jalan terbaik adalah membangun budaya safety.”

Dalam mengegolkan budaya kerja aman, PLN melibatkan stakeholder untuk melakukan pembinaan sesuai kultur masyarakat dan pekerja PLN di sekitar area kerja.

Pihak manajemen sendiri, seperti dijelaskan Danni, menjadikan K3 sebagai kebijakan perusahaan yang dibahas di tingkat direksi. “Harapan saya terhadap rakor ini adalah sebagai upaya untuk menyatukan visi dan komitmen bersama tentang safety di PLN. Jadi nantinya budaya safety di PLN harus berjalan dengan baik. Itu artinya program rakor akan terus berjalan secara periodik, SMK3 dan CSMS harus berjalan simultan,” tegas pria kelahiran Ujungpandang 54 tahun silam ini.

Martono Foto WEBSementara Martono, Senior Manajer LK2 PT PLN (persero) Pusat, menyoroti pentingnya rakor sebagai tahapan sosialisasi dan penyamaan persepsi terkait strategi K2/K3 di level unit yang notabene memiliki perbedaan proses bisnis dan tingkat penerapan safety. “Jadi ada yang sudah leading ada yang belum dan juga ada yang middle. Rakor tersebut dapat menyamakan positioning kita bahwa kita sekarang berada di mana,” paparnya. Di samping itu manfaat penting lain adalah terjadinya sharing informasi dan pengalaman antar unit maupun anak perusahaan. Terutama di sektor pembangkit yang memang sudah maju dalam pelaksanaan K3-nya, lanjut Martono.

Dalam pandangan Martono, rakor bisa menjadi acuan untuk membuat peta komando. Dengan alasan, kondisi K3 di unit-unit ini masih perlu ditingkatkan. “K3 jangan hanya menjadi pelengkap tetapi harus menjadi kebutuhan. Saya ingin K2 dan K3 ini menjadi kebutuhan di unit-unit kerja PLN. Melalui roadmap K3 yang sudah tersusun di tahun 2014 dan 2015, akan kita review dan di dalam raker tersebut kita evaluasi,” ungkapnya.

Baca Selanjutnya