LAPORAN UTAMA : CATATAN KELAM DUNIA PENERBANGAN 2014-2015

LAPUT 56LAGI DUNIA PENERBANGAN PADA KURUN SELAMA 2014 DAN AWAL 2015 ADALAH TAHUN DUKA. BELUM SATU DITUNTASKAN MUSIBAH TERJADI LAGI SECARA BERUNTUN DALAM HANYA HITUNGAN BULAN. BUKAN SAJA PENYEBABNYA YANG SAMPAI KINI MASIH GELAP BAHKAN MALAYSIA AIRLINES MH370 SAMPAI TULISAN INI DITURUNKAN BELUM DITEMUKAN, APALAGI DITELITI PENYEBABNYA. PESAWAT ITU SEPERTI LENYAP BEGITU SAJA. YANG JUGA TRAGIS ADALAH MALAYSIA AIRLINES MH17 YANG DITEMBAK DI PERBATASAN UKRAINA DAN RUSIA YANG SAMPAI KINI HANYA MENYISAKAN KONTROVERSI. DI INDONESIA, AIRASIA QZ8051 MENGALAMI MUSIBAH SAAT DALAM PERJALANAN SURABAYA MENUJU SINGAPURA.

Selain itu, ada masalah Lion Air yang sudah terkenal dengan jadwal penerbangannya yang selalu terlambat. Ribuan penumpang terlantar. Di saat booming dunia penerbangan, memang harus diakui ada persoalan kesiapan perusahaan penerbangan serta infrastruktur yang kurang sepenuhnya mendukung.

Pemerintah dalam hal ini Menteri Perhubungan Ignasius Jonan sudah mengambil sejumlah kebijakan antara lain memperketat  izin rute dan izin terbang serta dampaknya tiket murah sekarang agak lebih langka. Jonan juga mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap penjualan tiket pesawat. Dia mengatakan tidak mengizinkan maskapai penerbangan menjual tiket sebelum memiliki izin penerbangan yang jelas.

“Untuk ke depannya penjualan tiket sebelum izin turun tidak akan terjadi,” ujar Jonan saat melakukan rapat dengar pendapat dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).  Sering kali sebuah maskapai mengajukan rute terbang diikuti penjualan tiket padahal izinnya belum diperoleJonanh, lanjut mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia tersebut. Kemenhub  mengeluarkan regulasi baru soal “penghapusan” tiket murah, dengan memberlakukan secara ketat tarif bawah harga tiket pesawat yang hanya boleh 40% saja dari ketentuan yang juga dibuat Kemenhub. Ketentuan tarif yang tak menggunakan mekanisme pasar, seperti harga-harga komoditas lainnya yang saat ini sedang digalakkan pemerintahan Joko Widodo.

Menurut Jonan, “Ketika izin belum diterima maka saya belum berani melakukan penjualan tiket kepada masyarakat,” ujarnya. Perbaikan dalam hal keamanan akan dilakukan setelah fokus perbaikan administratif bisa tercapai. “Saat ini perbaikan difokuskan pada administratif. Perbaikan keamanan dan teknis akan dilakukan selanjutnya,” kata Jonan.

Menanggapi kebijakan itu, pengamat pener­bangan Gerry Soerjatman mempertanyakan sikap Menhub yang antara lain menghapus tiket pesawat terbang murah sebagai solusi penekanan terhadap kecelakaan pesawat. Menurutnya hal itu  adalah sesuatu yang di luar akal sehat. “Penghapusan tiket murah merupakan ide yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang menteri mengeluarkan pernyataan seperti itu untuk solusi kecelakaan pesawat,” kata Gerry. Menurutnya tidak ada hubungan antara kecelakaan pesawat dengan harga tiket murah yang dijual perusahaan airlines. Dia menjelaskan tiket murah ini bisa membantu Indonesia dalam hal bisnis. Dalam artian, lanjutnya, banyak para pebisnis yang terbang dari satu kota ke kota lain untuk menjalankan bisnisnya membeli tiket murah. “Karena tiket murah ini juga Indonesia terbebas dari resesi yang mengancam,” tegasnya.

Selain itu, pernyataan Menhub soal tiket murah telah mendahului penyelidikan KNKT soal kecelakaan pesawat Air Asia. “KNKT saja belum menetapkan kecelakaan pesawat karena apa tapi Menhub sudah bisa memberikan solusi,” pungkasnya. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil menanggapi aturan baru tentang penjualan tiket pesawat murah yang dilakukan para maskapai penerbangan atau Low Cost Carrier (LCC) berpendapat, penghapusan LCC bagi maskapai penerbangan bukanlah penyelesaian masalah, namun LCC merupakan tren di dunia saat ini.

“Yang penting bagaimana keselamatannya supaya LCC mode penerbangan berlaku di seluruh dunia. Keselamatan, ketaatan hukum, ketaatan peraturan dijalankan. Jadi yang penting biarpun murah tapi aman. Saya belum bisa komentar,” paparnya.

Berikut  kecelakaan pesawat selama tahun 2014 dan awal 2015: 8 Maret 2014, dunia penerbangan dikejutkan dengan berita hilangnya Pesawat Malaysia Airlines MH370. Pesawat itu lenyap dalam penerbangan dari Kuala Lumpur, Malaysia, menuju Beijing, China. Pesawat itu hilang kontak dari menara pengawas pada pukul 02.00 dini hari, setelah terbang selama sekitar satu jam. Pesawat tersebut mengangkut 227penumpang dan 12 kru pesawat. Tujuh di antara penumpang adalah warga negara Indonesia. Hingga saat ini pesawat masih dinyatakan hilang. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari bangkai pesawat, namun belum membuahkan hasil. Bahkan serpihan kecil pesawat pun tak pernah kelihatan hingga sekarang.