LIPUTAN : KOMITMEN ADALAH SEGALANYA

LIPUTAN 56 copyJANGAN SALAH, KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN KERJA ITU BUTUH ‘INTERVENSI’. MELALUI PERENCANAAN MATANG DAN KOMITMEN MANAJEMEN YANG SECARA KONSISTEN DILAKSANAKAN OLEH SELURUH LINI PERUSAHAAN, PT MARTINA BERTO TBK. PUN SUKSES MENGIMPLEMENTASIKAN SMK3.

Bergelut di bidambtong produksi kosmetika bukan berarti minim pengawasan terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sebaliknya, unsur ini justru menjadi prioritas bagi manajemen dan juga para pekerja.

Seperti dilakukan PT Martina Berto Tbk. yang memroduksi produk kecantikan dan produk spa terkemuka, maka K3 pun menjadi titik sasaran paling krusial. Jadi, anggapan masalah keselamatan kerja hanya lazim dilakukan perusahaan pertambangan, salah besar kiranya. Kepada Majalah KATIGA, Hery Jauhari selaku HRGA Manager juga sebagai MR Safety yang didampingi Plant Manager Eti Setiawati dan Sutiyoso sebagai Sekretaris P2K3, menegaskan pihaknya mengelola sistem K3 dengan terencana. Maka di simpul ini, intervensi manajemen dan komitmen sangat diperlukan.

Alasannya, aspek keselamatan bukan sekadar bicara cedera pada karyawan atau kecelakaan kerja semata. Lebih dari itu, K3 juga meliputi sarana produksi dan aset perusahaan. “Aspek K3 berkaitan dengan pengendalian kerugian bukan hanya menyangkut kecelakaan atau cedera pada manusia tetapi juga menyangkut sarana produksi dan asset perusahaan,” ungkap Hery

Dalam urusan menjaga dan menerapkan komitmen K3 di perusahaan, PT Martina Berto Tbk sudah sesuai dengan core business yang dimiliki. Keterlibatan dari unsur Direksi, Manajemen dan Karyawan menjadi suatu keharusan untuk mengakomodir kepentingan dan penerapan K3 di perusahaan. “Hal ini sudah dituangkan dalam bentuk kebijakan perusahaan. Dalam pola kebijakan sudah ditetapkan juga sasaran dan program kerja yang ingin dicapai,” tegas Jauhari.

Maka di simpul ini pula perlu diterapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Kenapa begitu, sebab SMK3 merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan. Dalam artian mencakup struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan dalam rangka pengendalian risiko kerja.

Di sini pula, perusahaan melakukan pendekatan ‘bernas’ untuk menjadikan keselamatan kerja sebagai ‘jangkar’ dalam peningkatan produksi.  Salah satunya adalah pola SADARISASI K3 yang meliputi program pembinaan pelatihan karyawan, promosi atau kampanye, pembinaan perilaku aman, pengawasan dan inspeksi, komunikasi dan pengembangan prosedur kerja aman serta evaluasi dan konsistensi.

“Program plan, do, check dan action berperan sebagai treatment aspek K3 di dalam manajemen K3,” imbuh Jauhari. Aspek kampanye keselamatan kerja tidak sebatas pemasangan spanduk yang berisi peringatan berhati-hati. Lebih dari itu, pendekatan yang terus menerus di semua jenjang jabatan bagai keharusan yang tak boleh ditinggalkan.

Hery  menyatakan, kecelakaan kerja tetaplah ada namun dalam skala kecil seperti pekerja terpeleset, tertimpa palet atau tergores cutter . “Hal ini sudah kami perbaiki sarananya dengan memberikan tanda-tanda dan tata cara bekerja dengan aman. Selain itu juga ditunjang alat pelindung diri yang telah disediakan pihak manajemen,” demikian Jauhari.

Sementara itu, Eti Setiawati, Plant Manager, juga berbagi cerita tentang keselamatan kerja di perusahaan yang menaunginya itu. Beberapa tahap preventif dilakukan seperti pelatihan berupa evakuasi, pemadam kebakaran dan operasional forklift. “Bentuk lainnya kami juga dalam pengendalian dengan memberikan petunjuk Cara Kerja Aman  Safe Working Practices  dan Safe Operating Procedure, selain membagikan buku safety  ke karyawan sebagai pedoman,” ucap Eti.

Secara teknis, perusahaan menekankan pada karyawan untuk menolong korban kecelakaan kerja. Lalu dilakukan identifikasi korban dan kemudian membuat laporan investigasi kepada pihak terkait yang kemudian berujung pada sanksi dan perbaikan.

Baca Selanjutnya