MANAJEMEN : KIAT MEMASTIKAN PROGRAM BERJALAN EFEKTIF

MANAJEMEN 56

MENGELOLA STRATEGI K3LH BOLEH DIBILANG PUNYA KIAT-KIAT TERSENDIRI. MULAI DARI PROSES PENETAPAN KPI, PENYUSUNAN PROGRAM, PELAKSANAAN PROGRAM, SAMPAI TAHAP EVALUASI DIGARAP SEDEMIKIAN RUPA UNTUK MEMASTIKAN PROGRAM YANG DISUSUN TEPAT SASARAN DAN DIIMPLEMENTASIKAN DENGAN BAIK. DENGAN BEGITU, TUJUAN PERUSAHAAN UNTUK MENEKAN ANGKA INSIDEN, PENYAKIT AKIBAT KERJA, KERUGIAN HARTA BENDA, DAN PENCEMARAN TERHADAP LINGKUNGAN DAPAT TERCAPAI.

Seyogianya, program K3LH dijalankan perusahaan harus memenuhi kaidah SMART (Specific, Measurable, Attainable, Relevant, dan Time-based). Setidaknya, ada sebelas faktor yang cukup menentukan keberhasilan program K3 dapat berjalan baik dan efektif.

Pertama, apa yang disebut Key Performance Indicator (KPI). Kita harus menentukan KPI yang menjadi indikator keberhasilan perusahaan dalam mengelola K3LH. Beberapa parameter KPI yang bisa digunakan, antara lain, Lost Time Injury Frequency Rate, Severity Rate, Property Damage Cost, Property Damage Frequency Rate, Illness Severity Rate, Illness Frequency Rate, jumlah pencemaran lingkungan, jumlah kejadian minor injury, jumlah pelaksanaan inspeksi, jumlah pelaksanaan observasi, jumlah pelaksanaan training, jumlah pelaksanaan pertemuan komite K3LH, dan audit.

Dalam pelaksanaannya, KPI dapat dibagi menjadi Leading Indicator dan Lagging Indicator. Leading Indicator ialah ukuran dari aktivitas atau proses yang dilakukan dalam melaksanakan program yang telah dicanangkan. Lagging Indicator ialah ukuran angka yang merupakan hasil akhir dari suatu proses, seperti jumlah kejadian insiden, jumlah kasus sakit, dan jumlah kejadian pencemaran lingkungan.

Selain itu, KPI harus ditentukan dan disepakati oleh seluruh bagian yang terkait. KPI secara corporate harus diturunkan menjadi KPI divisi yang selanjutnya diturunkan menjadi KPI department, KPI section sampai dengan KPI individu. Dengan demikian, perlu diadakan acara khusus dalam menyusun kesepakatan KPI ini. Dan, pastikan bahwa proses ini berjalan dengan baik, karena aspek K3LH harus menjadi bagian yang melekat dalam setiap proses dan menjadi parameter penilaian kinerja bagi setiap individu yang ada di organisasi.

Kedua, penyusunan program. Untuk menyusun program K3LH yang efektif, ada delapan hal yang perlu dijadikan acuan. Pertama, president letter yang isinya berupa arahan dari manajemen tertinggi di perusahaan mengenai program apa yang menjadi fokus pada satu tahun ke depan terkait dengan aspek K3LH. Kedua, analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) mengenai posisi perusahaan dalam aspek K3LH untuk dijadikan starting point dalam pengembangan program selanjutnya. Unsur S dan W dalam analisis ini menyangkut faktor-faktor internal, sedangan unsur O dan T menyangkut faktor-faktor eksternal perusahaan. Ketiga, catatan hasil inspeksi, observasi, dan laporan audit. Data seperti catatan hasil inspeksi, observasi, dan laporan audit harus dianalisis guna mengidentifikasi temuan-temuan yang sering berulang. Temuan-temuan tersebut perlu diperhatikan untuk tujuan peningkatan pada program kerja yang akan disusun.

Hal keempat menyangkut data investigasi kecelakaan. Hasil investigasi kecelakaan merupakan data yang sangat berharga untuk digali baik dari sisi faktor kondisi, manusia, pengawasan, sistem manajemen yang menjadi faktor kritis penyebab terjadinya insiden. Lalu, kelima, menyangkut program yang sedang berjalan yang perlu terus dievaluasi efektivitasnya. Program yang dinilai efektif harus tetap dipertahankan dan dilanjutkan pada tahun berikutnya, sedangkan yang tidak efektif sebaiknya dihentikan. Keenam, data hasil Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko (IBPR) merupakan hal utama yang harus dijadikan acuan dalam menyusun program K3LH. Harus dipastikan seluruh bahaya yang memiliki risiko tinggi telah memiliki rencana perbaikan untuk menurunkan risikonya sampai dengan tingkat yang dapat diterima.

Baca Selanjutnya