OPINI : K3 DAN MISTERI "THE SILENT KILLER"

OPINI 56SEBUAH PARADOK KETIKA TEWASNYA 30-AN PEKERJA SETIAP HARI TAK JUGA MEMBERIKAN DAMPAK PADA ISU K3 DI TATARAN UMUM. TRAGEDI TEWASNYA RIBUAN PEKERJA INI LEWAT BEGITU SAJA, TAK BERBEKAS. MEDIA MENJADI ‘MANDUL’ DI SINI. JAUH BERBEDA KETIKA TERJADI KECELAKAAN PENERBANGAN MISALNYA. ARTINYA, MAKNA KEBESARAN K3 TERSEMBUNYI DI BALIK ISU KEMATIAN RIBUAN PEKERJA YANG TAK TERUNGKAP.

Kecelakaan penerbangan terakhir yang cukup mengundang perhatian publik adalah jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 yang menewaskan sekitar 162 orang. Seluruh media berita memberitakan kejadian tersebut di setiap masa tayangnya. Berita kecelakaan pun ter-up date setiap hari, mulai dari teka-teki sebab kecelakaannya sampai bagaimana proses evakuasi korban. Negara menaruh perhatian besar pada peristiwa kecelakaan itu.

Berita tragedi memang menarik untuk ditonton. Orang cenderung ingin tahu bagaimana sebuah peristiwa itu terjadi. Tentang kejadian dramatis saat terjadinya sebuah tabrakan besar misalnya atau jatuhnya pesawat, meledaknya pabrik, terbakarnya gedung dll. Luka, kematian, kesedihan, tangisan, kemarahan adalah aspek psikologis yang menjadi magnet besar kita –yang berada di luar– terpanggil untuk menonton, mengikuti cerita demi cSudirgoerita. Permainan visual yang paling kuat adalah ketika peristiwa itu ditayangkan oleh stasiun televisi. Tragedi itu semakin terasa lebih tragis lagi. Lewat gambar persegi TV dalam balutan suara menyentuh, nada penuh haru dari para presenter/reporter, perasaan kita dimainkan. Hati kita pun dibuat tersayat tatkala TV menayangkan visual cairan warna merah keluar dari mulut korban yang sudah terbujur kaku. Tak selesai sampai di situ, emosi kita dimainkan lagi dengan suara tangis para keluarga korban, berteriak dalam tangis kesedihan dan kepasrahan. Mata pun tak berkedip melihat para relawan mengangkat tubuh atau potongan tubuh para korban.

Suguhan drama kesedihan itu dilanjutkan lagi, kali ini dengan menyambangi keluarga para korban. Di sini para presenter memberikan banyak pertanyaan kepada keluarga tentang kebiasaan-kebiasaan korban, status, pesan-pesan terakhir, perasaan keluarga, dll. Dengan terbata-bata sambil menyeka air mata, korban atau keluarga korban berusaha menjelaskan pertanyaan-pertanyaan presenter. Diiringi suara presenter mengolah kata, suasana menjadi hening, drama kesedihan ini pun semakin kuat masuk ke relung rasa. Jutaan orang menaruh iba atas derita sang korban! Ironis, tapi inilah fakta sosial yang kita jalani selama ini. Kita tertarik menonton orang-orang yang sedang dirundung sedih. Fakta bahwa kita adalah bagian dari drama itu. Indra kita tak pernah kuasa menolak ketika menangkap sinyal rasa. Membawa pada perasaan ingin tahu, berempati, dan bahkan melakukan aksi. Dimensi lain adalah ketika isu ini menjadi massif maka social control dari masyarakat berjalan. Pihak-pihak yang terlibat dan bertanggung jawab pada peristiwa tragedi menjadi perhatian dan pantauan mereka. Semua mata tertuju pada bagaimana para regu penolong dan pejabat Negara bertindak, bagaimana pejabat Negara bersikap.

Fakta bahwa sebuah peristiwa tragis, tentang derita dan kematian adalah topik komoditi jual bagi para pewarta. Menjadi trending topic yang memaksa para penonton untuk mengikuti, bahkan bisa menjadi hukuman sosial bagi yang tidak mengikuti. Dalam konteks ini tidak ada yang salah. Media elektronik dan cetak ditambah lagi media sosial berharap suguhan beritanya ditonton dan dibaca, maka berita tragedi menjadi salah satu pilihan. Ujungnya adalah aspek komersial tak bisa dibendung, bisnis pemodal terpenuhi.

Di sisi lain, bombardir berita kesedihan itu seharusnya diimbangi juga dengan program edukasi preventif. Bukankah misi mulia dari pewarta adalah mengedukasi. Bayangan penulis adalah setelah berita-berita tragis, maka muncul pembahasan serius dengan menghadirkan para ahli–termasuk ahli K3– yang membahas tentang bagaimana tragedi itu terjadi, apa lesson learn yang bisa dipelajari, lalu bagai­mana tinjauan para ahli K3, ada tidak strategi ke depan baik yang bersifat pencegahan, curative program, corrective system, dll. Jika setiap kecelakaan kerja kemudian secara khusus ada bahasan dan melibatkan para ahli K3, maka banyak ahli K3 yang bisa menjadi nara sumber. Efeknya, K3 menjadi sebuah program yang diperhitungkan. Apa yang dipertontonkan dan kita tonton adalah bagian dari aspek K3, persoalannya sebagian besar masyarakat kita tidak tahu, baik yang mempertontonkan (penyampai pesan) maupun penonton (penerima pesan).

Baca Selanjutnya