LAPORAN UTAMA: Geliat Budaya K3 Menuju Persaingan Global

Laput 59TIDAK ADA SALAHNYA JIKA KITA SEMUA, BANGSA INDONESIA, MEMIMPIKAN SEBUAH BUDAYA BARU TERKAIT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3). TIDAK ADA SALAHNYA JIKA KETIKA ORANG, ATAU PERUSAHAAN, TIDAK LAGI MENGANGGAP BAHWA K3 ITU ADALAH PEMBOROSAN DAN MAHAL. ALANGKAH INDAHNYA JIKA KITA SEMUA, BANGSA INDONESIA UMUMNYA DAN PENGUSAHA DAN PEKERJA KHUSUSNYA, MENGANGGAP BAHWA K3 ITU TAK UBAHNYA MEREKA MELAKUKAN GOSOK GIGI PADA PAGI HARI SELEPAS BANGUN TIDUR.

“Gosok gigi pada pagi hari adalah upaya menjaga kesehatan yang tidak pernah dianggap sebagai beban dan berbiaya tinggi,” demikian Dr. Ir. Waluyo Ketua DK3N kepada Katiga, mengandaikan kebutuhan akan keselamatan dan kesehatan kerja sebagai kebutuhan keseharian yang tidak lagi dipikirka n beban biayanya. Alangkah indahnya jika kita semua -- kaum pekerja/buruh, pengusaha dan kalangan industri – menganggap K3 sebagai kebutuhan keseharian mereka bukan lagi sebuah beban manajemen dan pemborosan. Jika sudah mencapai kondisi seperti ini bisa dipastikan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja telah menjadi sebuah budaya.

K3 merupakan panggilan bagi seluruh stake holder ketenagakerjaan, baik pemerintah, pengusaha beserta organisasinya, industri, pekerja/karyawan, dunia pendidikan, kalangan organisasi profesi, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), individu dan seluruh kalangan masyarakat yang perduli terhadap K3. Untuk itu semua pihak diharapkan berperan secara proaktif dalam upaya pelaksanaan K3 sesuai dengan hak, kewajiban dan tanggung-jawabnya masing-masing. Semua pihak sudah seharusnya menjalankan prinsip K3 dalam keseharian mereka, dan tidak lagi menjadikannya sebuah beban. “Akhir-akhir ini terlihat adanya perkembangan yang cukup menggembirakan di bidang K3 di Indonesia,” imbuh Waluyo yang segera mengakhiri jabatannya di DK3N karena harus memimpin institusi lain yang tidak kalah penting dan strategisnya.

Semakin banyak perusahaan dan industri yang “menekan” pekerja untuk taat dan membudayakan K3, menunjukkan perkembangan positif itu. Bukan hanya semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan SMK3 tetapi juga semakin besarnya kesadaran masyarakat pekerja Indonesia akan keselamatan dan kesehatan kerja bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan sekitar. Ada beberapa indikator yang menunjukkan gelagat bahwa K3 sudah menuju arah yang benar untuk segera menjadi budaya. K3 sebagai sebuah kebutuhan dan bukan sebagai kewajiban.

Perkembangan baik soal keselamatan dan kesehatan kerja itu terlihat dari tren menurunnya kecelakaan kerja, baik yang bersifat ringan maupun berat. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, pada tahun 2015 lalu terjadi 105.182 kasus kecelakaan kerja. Dari jumlah kecelakaan kerja itu korban yang meninggal dunia ada 2.375 orang. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka kecelakaan kerja itu memang sudah menurun. “Tetapi kecelakaan kerja itu masih tergategori sangat tinggi,” kata Mudji Handaya Dirjen Pembinaan Pengawan Ketenagakerjaan dan K3. Sebab, prinsip utama dari K3 adalah meniadakan kecelakaan kerja atau zero accident.

Baca Selanjutnya