PROFIL: Tahun 2018 'ZERO ACCIDENT'

Profil 59

SEBELUMNYA, K3 DAN KEAMANAN DI BAWAH DIVISI UMUM. KINI BERGANTI MENJADI DIVISI K3 KEAMANAN DAN LINGKUNGAN, DAN HELMI NAJAMUDDIN MENJADI ORANG PERTAMA YANG MENDUDUKI JABATAN BARU SEBAGAI KEPALA DIVISI K3L PLN. MELALUI DIVISI BARU INI, HELMI BERTEKAD MENCAPAI ZERO ACCIDENT TAHUN 2018. TANTANGANNYA ADALAH MEMBANGUN ‘AWARENESS’ DAN ‘MINDSET’.

Merunut kembali terbentuknya divisi yang dipimpinnya, Helmi Najamuddin “membuka rahasia”, yakni berawal dari menggandeng konsultan asing. Konsultan tersebut menyarankan agar perusahaannya membentuk divisi K3L tersendiri atau HSSE (Health Safety Security Environment) yang bertanggungjawab langsung kepada direktur. “Selama ini, pertanggungjawabannya hanya ke bagian MS (manajer senior) di bawah divisi umum,“ kenang Helmi.

Rekomendasi itu dilaksanakan, dengan menggabungkan 2 MS yakni MS K3 dan Keamanan digabung dengan MS Lingkungan menjadi divisi K3L di bawah Human Capital Management (HCM) yang bertanggungjawab langsung ke Direktur HCM. Divisi baru ini pun bertugas memastikan K3L diterapkan di seluruh unit PLN. Untuk memastikannya, Helmi pun harus “turun gunung” ke wilayah-wilayah guna mengawal tujuan utama perusahaannya, yakni zero accident, zero incident dan ramah lingkungan.

Sebelum masuk K3L, Helmi adalah Kepala Divisi Batubara yang bertugas mendapatkan batubara dengan volume yang cukup, kualitas yang sesuai spesifikasi, dan waktu pengiriman yang tepat. “Jadi kalau sebelumnya memastikan PLTU tidak mati, sekarang di K3L memastikan orang-orang yang bekerja tidak mati,” kata ia, berusaha menyandingkan kedua bidang tersebut. Bedanya, sekarang berhubungan dengan manusia dengan segala pribadi dan perilakunya.

Diakui Helmi, kecelakaan di perusahaannya memang masih terbilang tinggi. Salah satu sebab adalah produk listrik yang dihasilkan dan dijual ke publik tergolong berbahaya, yakni listrik yang bisa menghasilkan sengatan setrum yang mematikan. “Bagaimanapun, kecelakaan harus ditekan,” tekad laki-laki kelahiran Semarang, 21 Juni 1961 ini.

“Listrik sifatnya langsung menyengat, tidak bisa di-cancel atau undo. Jadi sangat berbahaya. Yang terkena setrum, jika tidak terbakar ya meninggal,” terang ia. Di sinilah pentingnya tindakan pencegahan. Pencegahan itu lebih kepada manusianya, kalau alat bisa dibeli. Kesadaran, dan semangat untuk melaksanakan K3 pun harus dimiliki oleh setiap pegawai. Jangan sampai alat sudah dibeli tapi tidak dipakai. Maka di atas itu semua yang paling penting adalah mengubah mindset orang, tegas ia.

Untuk mendorong agar mindset seseorang berubah, Helmi menjelaskan pentingnya inspeksi mendadak (sidak), setidaknya setiap saat orang akan terus berbenah diri. Ditambah lagi, atasan harus ‘cerewet’ mengingatkan bawahannya tentang pentingnya menjaga keselamatan. “Setiap site PLN harus ada pengawas K3, pengawas pekerjaan maupun pelaksana pekerjaan,” kata Helmi, penuh semangat. Masalah yang sering terjadi di lapangan adalah kurangnya tenaga pengawas itu sendiri. Konsekuensinya, ia pun sering melakukan sosialisasi melalui workshop K3L, seperti di Bandung–mewakili Jawa Bali, di Aceh–mewakili Sumatera, dan selanjutnya Sorong, Papua yang mewakili Indonesia bagian timur.

“Target kami tahun 2018 adalah zero accident,” ujar ia, optimis sambil menunjukkan roadmap K3 tahun 2016 sampai 2018. Konon, saat ini kecelakaan umum penyumbang porsi terbesar, terutama didominasi oleh pekerjaan-pekerjaan renovasi bangunan rumah penduduk. Menurut Helmi, para pekerja biasanya membawa besi, ketika besi tersebut tersangkut di kawat listrik, disitulah kecekaan kerja kerap terjadi.

Baca Selanjutnya