SERIKAT : Pidanakan Pengusaha Penyebab Kecelakaan Kerja

Serikat 67MALAIKAT KEMATIAN TERUS MENGINTAI BURUH YANG TENGAH BEKERJA. BURUH INDONESIA MASIH MEMPERINGATI INTERNATIONAL WORKERS MEMORIAL DAY (IWMD) ATAU PERINGATAN HARI BURUH YANG TEWAS BEKERJA 2018 DI BAWAH LANGIT MENDUNG KONDISI KERJA MEMATIKAN.

Maman baru berumur 25 tahun ketika ia meregang nyawa akibat kecelakaan kerja di proyek pembangunan Jembatan Tol Bocimi, Caringin, Bogor, Jawa Barat pada September 2017. Kegagalan konstruksi membuat jembatan ambruk dan menimpanya. Februari lalu, empat buruh tewas seketika dalam kecelakaan pembangunan rel kereta api di Jatinegara, Jakarta. Perusahaan BUMN, yang seharusnya menjadi contoh model bisnis, malahan menjadi sumber kecelakaan kerja. Di sektor konstruksi garapan perusahaan pelat merah, ada 13 kecelakaan kerja dalam 10 bulan terakhir. Di sektor swasta, tahun 2017 menorehkan catatan kelam 47 buruh tewas mengenaskan akibat ledakan pabrik petasan.

Angka kecelakaan kerja terus meningkat. Pada 2017, kecelakaan kerja meningkat 20 persen menjadi 123 ribu. Artinya, setiap jam terjadi 14 kecelakaan menimpa buruh. Data itu baru berdasarkan laporan resmi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Padahal, BPJS baru mencakup 22 juta (Mei 2017) dari 131 juta (Data BPS Februari 2017) angkatan kerja. Kondisi buruh migran Indonesia di luar negeri tidak kalah menggenaskan. Jaringan Buruh Migran Indonesia mencatat 217 buruh migran tewas sepanjang 2017 ketika mencari nafkah. Dari jumlah itu, 62 pekerja berasal dari salah satu provinsi termiskin, Nusa Tenggara Timur.

Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) melihat kecelakaan kerja memiliki berbagai akar persoalan. Namun, salah satu persoalan yang paling mendesak terletak pada Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Undang-undang itu tidak memuat sanksi pidana yang tegas.

Baca Selanjutnya