LINGKUNGAN: Sekali Lagi, Sampah Plastik dan Lautan

8. Lingkungan 69MENURUT DATA BADAN PUSAT STATISTIK (BPS), INDONESIA MENGHASILKAN 64 JUTA TON SAMPAH PLASTIK PER TAHUN, DENGAN 3,2 JUTA TON DIANTARANYA MENGALIR KE LAUT.

Pada 19 November 2018 silam, berita tentang seekor paus sperma (Physester microcephalus) yang terdampar mati di pantai Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menyita perhatian masyarakat Indonesia.

Tak berhenti sampai di situ, temuan selanjutnya jauh lebih mengejutkan. Salah satu cuitan akun twitter WWF Indonesia pada 20 November 2018 mengungkap obyek yang ditemukan di dalam perut hewan raksasa tersebut adalah 5,9 kg sampah plastik ditemukan di dalam perut paus malang ini!

Sampah plastik yaitu: plastik keras (19 pcs, 140 gr), botol plastik (4 pcs, 150 gr), kantong plastik (25 pcs, 260 gr), sandal jepit (2 pcs, 270 gr), didominasi oleh tali rafia (3,26 kg) dan gelas plastik (115 pcs, 750 gr).” Bagaimana sampah plastik tersebut bisa berada di dalam perut paus itu? Banyak makhluk laut bukan merupakan makhluk visual layaknya manusia. Seperti halnya kelelawar dan lumba-lumba, paus berburu mangsa dengan ekolokasi atau biosonar. Dalam penginderaan mereka, gema plastik akan terdeteksi mirip dengan gema mangsa (misalnya cumi-cumi), sehingga paus salah mengidentifikasi plastik sebagai mangsa mereka (situs theconversation.com, 6 Desember 2018). Nyawa makhluk hidup di lautan makin terancam bila sampah plastik tersebut terakumulasi di dalam sistem pencernaan mereka tanpa dapat teruraikan (tentu saja). Bukti lain tak sulit ditemukan. Belum lama pula berselang, sebuah video tanpa informasi tempat dan tanggal viral di jejaring sosial linkedin.com. Seekor penyu tengah ditolong karena salah satu lubang hidungnya tersumbat sedotan plastik. Sebuah video lain yang menayangkan sampah plastik tengah ditarik keluar dari mulut seekor penyu juga turut beredar luas. Inilah bukti nyata tentang bahaya sampah plastik bila terlepas ke lautan.

Baca Selengkapnya.