LAPORAN UTAMA: MERAJUT ASA DORONG BUDAYA K3

1. Laput 68MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN INDONESIA BERBUDAYA K3 TAHUN 2020 ADALAH KEHARUSAN. JANGAN SAMPAI DITUNDA DENGAN BERJUBEL ALASAN.

Masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) masih menjadi isu ‘seksi’. Saban hari, entah terekam media maupun lolos dari pantauan pewarta kecelakaan kerja baik fatal maupun ringan terus terjadi. Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa hingga Agustus 2018, kecelakaan masih berkisar pada angka ribuan (84.527). Kecelakaan akibat kerja yang luput dari pantauan radar BPJS Ketenagakerjaan pastinya melampaui angka tersebut.

Rentannya kecelakaan kerja menjadi keprihatinan tersendiri. Padahal, aspek K3 merupakan pondasi dari setiap denyut pekerjaan. Rendahnya kesadaran akan keselamatan dan kesehatan kerja ini memberi gambaran bahwa aspek K3 belum membudaya atau melebur sebagai perilaku hidup dari masyarakat industri.

Konsep Budaya K3

Istilah budaya K3 (safety culture) pertama kali dipaparkan oleh IAEA tahun 1987 (The International Atomic Energy Agency), atas dasar hasil analisis bencana reaktor nuklir di Chernobyl. Dengan demikian, IAEA menyusun konsep budaya keselamatan adalah gabungan dari karakteristik dan sikap dalam organisasi dimana individu harus dijadikan prioritas utama. Pengertian ini mengaitkan budaya keselamatan dengan sikap seseorang dan kebiasaannya dengan gaya organisasi.

Konsep budaya K3 selanjutnya adalah mengembangkan cara-cara yang dapat terwujud secara nyata serta teruji. IAEA pun berpendapat bahwa prosedur yang baik dan praktek yang baik tidak memadai bila hanya dilaksanakan secara mekanis. Hal ini mengakibatkan adanya usulan bahwa budaya keselamatan menjadi tugas penting yang harus dilaksanakan dengan benar, bertanggung jawab, serta berdasarkan pemikiran dan pengetahuan yang bijak dalam pengambilan keputusan.

Sementara itu, menurut Blair dan Clarke, konsep budaya K3 merupakan bagian dari budaya organisasi. Budaya organisasi merupakan kombinasi dari perilaku, sikap, persepsi dan keluarannya berupa performansi, yang dapat menggerakkan roda organisasi. Budaya K3 merupakan penjelmaan dari perilaku, sikap, dan nilai secara bersama untuk mencapai derajad performansi sehat dan selamat, yang dipahami dan dijadikan prioritas utama dalam suatu organisasi.

Selain itu, dalam Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 245/Men/1990 tertanggal 12 Mei 1990, tertulis bahwa budaya K3 adalah perilaku kinerja, pola asumsi yang mendasari persepsi, pikiran dan perasaan seseorang yang berkaitan dengan K3; Memberdayakan adalah upaya untuk mengembangkan kemandirian yang dilakukan dengan cara menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam bertindak dan memahami suatu permasalahan; Pembudayaan adalah upaya/proses memberdayakan pekerja sehingga mereka mengetahui, memahami, bertindak sesuai norma dan aturan serta menjadi panutan atau acuan bagi pekerja lain. Konsep budaya K3 menurut Kemnaker ini tentu merupakan penjabaran dari UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Baca Selengkapnya.